Psychosurgery, Atasi Gangguan Jiwa dan Saraf
Penulis : Purwanti
Foto : google.com/imageBeberapa waktu lalu telah dilakukan operasi yang disebut dengan Psychosurgery terhadap pasien dengan gangguan psikologis oleh tim dokter Omni International Hospital, Serpong, Tangerang, bersama dengan profesor asal China, Prof. Bomin Sun M.D dari Associate Professor of Neurosurgery Director for Functional Neurosurgery, Shanghai Jiatong University Rui Jin, China. "Operasi ini baru pertama kali dilakukan di Indonesia," ujar Dr Alfred Sutrisno, Sp.BS, ahli bedah syaraf Omni Hospital yang juga sebagai tim dalam operasi tersebut.
"Operasi ini dapat dilakukan oleh pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, halusinasi, atau skizophrenia paranoid," ujar Alfred. Psychosurgery merupakan suatu tindakan operasi bedah saraf dengan stereotatic functional neurosurgery, operasi ini menggunakan teknik ablative yakni pembakaran syaraf yang dilakukan dengan radio aktif dan disesuaikan dengan target. "tingkat keberhasilan dari operasi ini sangat besar, yakni 90% dan kekambuhan yang terjadi sangat kecil kemungkinannya," kata Alfred.
Penelitian mengenai operasi ini, lanjut Alfred, dilakukan selama sekitar 3 - 4 tahun, sehingga angka kegagalan dalam operasi sangat kecil. Operasi ini dapat dilakukan kepada penderita Shizophrenia, kecanduan obat, obsessive compulsive disorder, anxiety disorder, depresi, dan berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan. "penyakit seperti parkinson, anoreksia nervousa, dan distonia juga bisa dioperasi dengan menggunakan teknik ini," kata Alfred menambahkan.
Bius Lokal
Dalam video streaming, yang mana tindakan operasi dilakukan dan direkam secara live, terlihat tim dokter sedang membedah kepala pasien. Mata pasien tersebut terlihat berkedip-kedip. Begitu juga kakinya yang bergerak-gerak. "pasien tidak dibius total, tapi hanya lokal. Teknik operasi itu disebut juga awake surgery," jelas Alfred.
Tujuan dari pembiusan lokal ini sendiri agar para dokter yang melakukan pembedahan dapat selalu memantau pasien, karena posisinya yang rawan dan dekat dengan saraf motorik. "pasien perlu ditanya, terutama untuk penderita parkinson dan distonia. Sehingga apabila operasi yang dilakukan mengganggu saraf tersebut, operasi dihentikan," lanjutnya.
Tahapan-tahapan yang dilakukan sebelum melakukan operasi, yang pertama adalah dengan mendiagnosa apakah pasien tersebut benar mengalami gangguan kejiwaan atau tidak oleh Psikiater. Kemudian baru dilakukan scanning dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk menemukan titik x, y, dan z pada syaraf yang akan dituju. Setelah menemukan syaraf mana yang akan dilakukan dilakukan tindakan, baru kemudian dimasukkan ke alat navigasi dan siap dilakukan operasi.
Dalam operasi ini melibatkan psikiater, ahli bedah syaraf, ahli neurofisiologi, "ahli neruofisiologi dibutuhkan untuk memonitor pasien pada waktu operasi, kami melakukan double-cek pada kondisi otak pasien yang dilakukan tindakan operasi," ujar Alfred. Operasi yang baru pertama kali dilakukan ini masih tergolong mahal, "harga alat pembakarnya sendiri yang hanya satu kali pakai, harganya bisa mencapai US$ 2.500," katanya.
Di China sendiri, Bomin Sun mengatakan sudah ada sekitar 600 pasien yang diambil tindakan dengan teknik operasi ini dengan berbagai kondisi, "operasi ini pernah dilakukan pada anak usia 6 tahun, dan maksimal usia untuk melakukan operasi ini 65 tahun," kata Bomin Sun dalam konferensi pers usai melakukan tindakan operasi.
Perkembangan
Ketika ditemui usai membedah pasien, Alfred mengatakan, ada beberapa tahap perkembangan yang terjadi pascaoperasi. Pada 24 jam pertama, jelasnya, pasien akan merasakan gejala-gejala agitasi, seperti gelisah.
Lima hari kemudian dalam diri pasien akan muncul perasaan kebingungan. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang dia utarakan. Tetapi, dua minggu berselang, pasien akan melepas obat-obatan yang diberikan kepadanya secara bertahap.
"Dua bulan setelah operasi barulah bisa dilihat hasil operasinya. Adapun jenis obat-obatan antipsikotik yang dikonsumsi untuk mengatasi halusinasi Andi, antara lain Rispendal, Tri Hexyphenidyl, dan Merlopan," jelas Alfred.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar